05 Oct Catatan Bagi Organisasi Humanitarian Saat Menggunakan Teknologi Dalam Mengelola Data
Di masa lampau, kerjasama antara organisasi humanitarian dan komunitas penyintas krisis tidak terlalu intens lantaran data yang digunakan masih sedikit. Namun ketika era teknologi mulai mengambil alih kehidupan sehari-hari, dan akses internet mulai mulai jadi kebutuhan sehari-hari disana terjadi sebuah perubahan dalam alur komunikasi antara satu individu ke individu lain. Kini, teknologi membuka banyak kemungkinan baru. Terutama dalam hal mengelola data, fenomena ini memberikan kontribusi besar kepada frame work organisasi humanitarian.
Meskipun teknologi memudahkan organisasi humanitarian dalam bekerja, namun ada beberapa catatan yang harus diperhatikan dalam menggunakan teknologi dalam mengelola data. Catatan ini juga menjadi pembahasan Humanitarian Affairs pada Juni 2020 lalu.
Organisasi Humanitarian Harus Punya Kontrol Terhadap Data
Hadirnya teknologi di tengah-tengah masyarakat Indonesia mengharuskan para organisasi humanitarian memiliki kontrol penuh terhadap data sebagai pilar dari aksi kemanusiaan. Semakin dinamisnya masyarakat akan menciptakan tantangan tersendiri dalam memberikan solusi yang benar-benar tepat atau dibutuhkan. Data-data ini pun harus bisa dipercaya keabsahannya, lalu tidak dapat diakses orang sembarang selain orang-orang terkait dengan organisasi humanitarian.
Sebab bila sewaktu-waktu organisasi humanitarian bekerjasana dengan pemerintah atau pihak lain, dan memberikan keputusan berdasarkan data yang dapat diakses oleh pihak ketiga maka akuntanbilitas akan dipertanyakan.
Organisasi Humanitarian Harus Memastikan Integritas Data
Trust merupakan isu paling penting, dan organisasi humanitarian harus memastikan integritas data yang mereka gunakan. Dalam hal ini reputasi, dan kemampuan mempertahankan kepercayaan semua stakeholders yang harus dijaga. Dalam konteks integritas data, organisasi humanitarian rentan akan serangan siber dalam isu keperpihakan terhadap populasi tertentu atau prioritas yang tidak sesuai dengan target.
Satu hal yang perlu diingat bahwa di era digital membuat data mudah dibajak dan diubah sesuai keinginan orang yang tidak bertanggungjawab. Bisa saja database anak-anak korban bencana atau konflik diubah namanya sehingga orang bisa mengklaim anak tersebut merupakan anak mereka karena kejahatan data sistematis.
Para korban pembajakan data ini kemudian bisa menjadi korban penjualan manusia atau menjadi pekerja ilegal.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Sadata memberikan layanan teknologi dalam mengumpulkan dan mengelola data yang valid dan memiliki integritas tinggi. Data-data yang disajikan Sadata pun sudah pasti aman, reliable, dan diambil dengan cara yang etis. Sadata merupakan rekan untuk organisasi humanitarian untuk mendapatkan manfaat maksimal dari teknologi dalam mengelola data dan menampilkannya dengan tampilan mudah dipahami.